
Awal bulan gaji baru turun -harus bisa mengatur keuangan, jangan-jangan sampai di pertengahan bulan sudah kehabisan. Sekarang gaji bukan lagi berupa uang cash yang diberikan, namun hanya sebuah nominal angka yang bisa kita lihat melalui website bank. Alat bayar kebanyakan juga hanya menggunakan kartu. Belanja sembako, beli bensin, tol, makan di restoran saat ini tinggal gesek sudah terbayarkan, palingan beberapa uang ribuan dan uang receh yang di gunakan saat naik bus atau makan di warung.
Nah kalau dulu saat masih berupa uang cash masih bisa di pilah-pilah dalam amplop atau di tabung dalam celengan. Sekarang bagaimana memilahnya, terkadang saya sendiri susah untuk menabung karena tidak di pilah-pilah sehingga merasa nominal angka yang tertera di ATM bisa di belanjakan semua... tau-tau diakhir bulan sudah tidak ada sisa lagi untuk pembelanjaan kebutuhan.
Bagaimana mensiasatinya?
Yang kita lakukan adalah membagi pendapatan tersebut pada minimal dua tempat penyimpanan alias bank, satu untuk kebutuhan sehari-hari dan satu untuk tabungan. Kalau saya punya tiga tabungan karena yang satu lagi terpakai untuk keperluan pekerjaan, untuk mengatur keuangan proyek sehingga tidak bercampur dengan kebutuhan sehari-hari. Pada prakteknya tetap saja masih bercampur -memang susah mengatur keuangan itu-

, tapi lumayan lah lebih aman daripada jadi satu.
Setelah menerima gaji -telah dipotong pajak- kalau saya ambil sebagian kewajiban untuk membayar zakat profesi, untuk orang tua atau adik tagihan internet atau telfon baru dibagi mana untuk kebutuhan sehari-hari dan sisanya untuk di tabung. Itu semua bisa dilakukan secara online, sehingga terasa hanya seperti bermain game online. Tinggal klik mouse, pencet-pencet tuts keyboard, masukkan kode sandi pada token dan pencet sent.. habis lah dalam sekejap. hehe..
Dengan gaji pas-pasan yang di terima saat ini kadang merasa iri dengan teman yang sudah bekerja dengan gaji yang lebih besar. Tapi kalau kita terus memandang ke atas, kapan bisa bersyukur dengan keadaan saat ini malah tidak bisa hidup bahagia. Ingat saja bahwa rezeki itu sudah ada Pengaturnya, tak ada yang perlu kita cemaskan karena hidup ini bukan sekedar untuk mencari uang. Kalau hidup ini hanya untuk mencari uang bisa saja menjadi tukang parkir. Dengan lahan seluas 9 * 5 m bisa menampung 45 motor. Asumsi tiap hari parkir Rp 3.000,- * 45 motor * 22 hari kerja = Rp 2.970.000,- per bulan. Atau seorang pengamen / pengemis, jika tiap hari beroperasi mendapatkan 100 orang dan tiap orang memberi Rp 1.000,- maka satu bulan bisa mencapai Rp 3.000.000,-. Kondisi seperti ini sangat memprihatinkan dimana saat seorang kuli yang bekerja dengan tenaganya dibayar lebih murah bisa-bisa mereka berfikir untuk menjadi seorang pengemis saja yang tinggal duduk meminta-minta dengan pakaian compang-camping bisa mendapatkan uang yang dapat mencukupi kebutuhan hidup. Harus ada solusi untuk masalah ini. Jika zakat telah di jalankan dengan sebaik-baiknya dan juga investasi bantuan modal untuk membuka lapangan kerja.
Saya sangat menyayangkan kondisi lingkungan kerja di satu sisi pemberian harga borongan untuk suatu pekerjaan terlalu mepet kemudian dengan harga tersebut akan melakukan pekerjaan dengan seadanya dan untuk menutup kekurangan mengambil barang-barang yang bukan haknya sebagai tambahan. Selain itu untuk memperlancar suatu kerjaan atau tanda tangan biasanya harus menyertai 'amplop' karena mereka menganggap bahwa atasan juga mendapatkan service lebih karena pekerjaan itu bisa di jalankan. Memang besarnya juga masih kecil, tapi kalau di biasakan juga akan menjadi besar. Para koruptor pun dulu juga melakukan dari jumlah yang kecil dulu.Ya Allah aku ingin Indonesia menjadi lebih baik.
Wah, kok jadi lari kemana-mana. Bisa jadi itu semua karena tidak semua orang bisa mengatur keuangan dengan baik. Semua orang menginginkan hidup nyaman dengan banyak harta, tapi kadang caranya tidak benar. Sehingga menginginkan tambahan pendapatan selain gaji. Seperti apa yang di katatan oleh
@safirsenduk "Uang Gaji yg Anda dpt dlm Rekening gak bikin Anda Kaya. Apa yg Anda lakukan dgn Uang Gaji itu, itulah yg bikin Anda Kaya."
4:05 AM Jun 28th. Setelah saya pikir benar juga, gaji akan segitu saja, bisa diukur kenaikannya berapa persen sampai suatu saat nanti pensiun.
Nantinya saya juga harus memikirkan bagaimana biaya untuk menikah, kelahiran anak, punya kendaraan, rumah tempat tinggal, sekolah anak, haji dan tabungan kesehatan atau untuk pensiun. hufff... pusing juga kalau mikir seberapa banyak kebutuhan yang akan di perlukan. Kembali lagi harus pasrah kepada Allah dan trus berusaha, karena itu hanyalah kebutuhan standar dan tentunya cita-cita dan perjalanan waktu bisa berubah setiap saat. Kehidupan yang kita jalani adalah saat ini bukan kemarin atau esok, jadi tak perlu ada yang di khawatirkan selama Allah bersama kita. Mari Bekerja! Semangat!!!